Kisah Derita Menuju Cinta



KISAH DERITA MENUJU CINTA

Saya memiliki sahabat yang begitu baik. Dalam biara, hanya dialah yang tidak pernah berbuat macam-macam, hidup rohaninya sangat mendalam, bahkan dalam kebersamaan setiap hari, banyak frater ingin bekerjasama dengan dia. Itulah mengapa panggilan akrabnya adalah ‘Santo’, karena memang demikianlah kesan kami selama bersamanya sejak dari Seminari Menengah. Hanya saja Tri(nama samaran) tidak seberuntung teman-temannya. Dalam hal belajar, ia mengalami kesulitan, apalagi ketika harus kuliah di Fakultas Teologi. Pada semester satu, ia harus remedial empat matakuliah.
Situasi yang demikian membuat dia khawatir, Romo Rektor telah memberi ultimatum untuknya. Jika semester dua masih remedial, maka ia harus memikirkan ulang panggilannya. Setelah mendapatkan teguran itu, Tri mengalami shock berat. Di satu sisi keinginan untuk menjadi seorang Imam masih sangat kuat, sementara di luar dirinya ada tekanan bahwa “ia harus memikirkan ulang cita-citanya”. Pater Rektor tidak memberikan solusi, apa lagi bantuan. Fakta ini hanya semakin memperkeruh keaadaan Tri yang nota bene masih sangat ingin menjadi seorang Imam.
Melihat situasi yang demikian saya sangat prihatin. Apa memang Allah hanya memanggil mereka yang pintar saja? Apa iya Allah tidak memperhatikan perbuatan baik yang dilakukan oleh Tri? Jika memang Allah memperhatikannya, mengapa Pater Rektor, yang dipandang sebagai “utusan Allah” memberikan pesan menyakitkan kepada Tri. Bagi saya ini merupakan perbuatan kejam. Teguran hanya diberikan begitu saja tanpa ada tawaran jalan yang bisa ditempuh oleh Tri. Jika memang pandangan saya salah lalu apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Allah dalam situasi demikian? Untuk membuat orang menjadi dewasa? Atau untuk memurnikan panggilan Tri? Tidak ada jawaban pasti disana.
Tri, dan mungkin juga beberapa orang yang seperasaan dengannya, pasti akan mengalami situasi serupa. Seringkali, situasi semacam ini berujung pada keputusasaan. Situasi seperti ini sejalan dengan pergolatan filsuf  Medieval Boetsius yang mempertanyakan sebuah realitas kehidupan, mengapa orang-orang yang berkuasa dan para penjahat hidup bahagia, sementara orang-orang kecil yang perbuatannya baik justru mengalami kesengasaraan, kesakitan, dan penderitaan yang seolah tanpa ujung. Dengan kondisi seperti ini orang tidak bisa lain kecuali pasrah dan menerima situasi. Namun apakah hanya akan menerima situasi, tanpa ada usaha yang bisa dilakukan?
Menerima saja tidak cukup untuk membuat perubahan. Dibutuhkan usaha yang gigih untuk bisa sampai pada kebahagiaan dalam hidup. Realitas penderitaan Tri itu seharusnya mengusik hati nurani sesamanya. Bukan hanya memberi simpati, tetapi “ada bersama” dia. Oleh karena itulah keterlibatan untuk mengalami kegembiraan serta kesedihan, mengerti cita-cita serta teka-teki hidup, bahkan menderita bersamanya dalam kegelisahan maut[1] menjadi penting dalam situasi semacam ini. Inilah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam kisah tentang Penghakiman Terakhir(Mat 25:31-46).
Persoalan Tri tidak akan selesai dengan teguran yang menyakitkan dan tanpa sebuah cara alternatif. Perhatian sesama-lah yang mampu membangkitkan kembali semangat dan menguatkan kembali harapan yang telah pudar. Perhatian mengandaikan ada dukungan dan tindakan konkret dari seluruh teman seperjuangan. Tuhan Yesus memanggil bukan untuk acuh tak acuh terhadap situasi, tetapi ada bersama-nya dalam suka dan duka. Dengan demikian pertanyaan bagi kita bukan lagi bernuansa hujatan terhadap Allah dan menyalahkan situasi, tetapi bagaimana saya membantu saudara saya Tri, agar ia menemukan kembali harapan dan kegembiraannya dalam panggilan.
Panggilan Allah meminta kita mengusahakan cara-cara kreatif guna membantu mereka yang mengalami kesusahan. Perlu adanya perubahan struktural dalam komunitas, misalnya membuat kesepakatan untuk membuat kelompok belajar. Selain itu perlu adanya perubahan norma dalam struktur komunitas, misalnya tidak menggunakan kata-kata yang dapat membangkitkan kegelisahan, tetapi setiap Frater haruslah memberikan semangat kepada semuanya, secara khusus dalam hal ini adalah Tri.
Dengan demikian tindakan nyata dalam injil benar-benar dinyatakan “ketika Aku lapar kamu memberi Aku makanan, ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum, ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara kamu mengunjungi Aku”(Mat 25:35-36).


[1] Dalam kutipan di atas, saya mengubah beberapa suku kata dalam bahasa yang sesuai dengan konteks Tri. Oleh karena itu teks asli dapat dilihat dalam, Ad Gentes 12Sebab Gereja ikut mengalami kegembiraan serta kesedihan mereka, mengerti cita-cita serta teka-teki hidup mereka, menderita bersama mereka dalam kegelisahan maut

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemandulan dan Rencana Allah

Keselamatan Bagi Israel dalam Perjanjian Lama