Kemandulan dan Rencana Allah
RENCANA ALLAH
BAGI ISRAEL YANG NYATA DALAM DIRI HANNA
Metho
A. Pendahuluan
1. Latar belakang pemilihan tema
Pada masa Yosua, umat Israel
masuk dalam tanah terjanji, yaitu tanah Kanaan. Namun karena raja-raja dan
kedosaan, terpaksa mereka harus meninggalkan tanah terjanji itu dengan keadaan
yang memprihatinkan. Secara politis dan ekonomi, Israel termasuk dalam golongan
submarginal, sehingga pengaruh atau tekanan dari bangsa lain menjadi sangat
dominan.
Dalam buku Interpretation First and Second Samuel
dikatakan demikian;
“we are soon to learn from the narative that Israel is made marginal by
the power of the Philistines. In the face of that external threat, Israel is politically weak and economically
disadvataged”.[1]
Dengan kata lain, Israel sebenarnya bukanlah bangsa
yang mampu hidup tanpa ada campur tangan dari bangsa Filistin. Tindakan mereka
tidak lagi didasarkan pada kehendak YHWH, tetapi otoritas politik dan ekonomi
Filistin. Situasi yang demikian mengakibatkan hidup bangsa Israel menjadi
semakin kacau.
Tidak hanya persoalan ekonomi
dan politik, persoalan moral dan teologi
yang dialami bangsa Israel membuat ‘jurang’ antara Israel dan YHWH
semakin lebar. Identitas sebagai bangsa terpilih menjadi semakin kabur. Dalam
kitab Hakim-hakim diungkapkan dengan jelas kekacauan Israel. Mereka mulai
menghianati agama YHWH, dengan menyembah berhala-berhala (Hak 17-18), mereka
juga di gambarkan sebagai sebuah komunitas yang mengalami kekacauan moral,
mereka melakukan hal-hal yang bengis dan jahat.[2]
Mereka tampak tidak memiliki
harapan masa depan yang cerah. Kekacauan yang begitu besar ini membuat Israel
tidak mampu lagi melepaskan diri dari belenggu masalah-masalah yang ada. Oleh
karena itulah sosok seorang raja sangat penting bagi Israel supaya mereka dapat
keluar dari segala persoalan yang mereka hadapi.
Penantian Israel untuk
memiliki seorang raja tampak tidak mempunyai masa depan. Sebagaiman Hanna,
kemandulan seolah membuat dia putus harapan, sakit karena Elkana memiliki
Isteri baru yang mampu memberikan keturunan, dan cap seorang yang terkutuk dari
banyak orang disekitarnya membuat hatinya kian berduka. Inilah yang dapat
dibandingkan dengan penantian Israel akan seorang raja yang mampu membebasakan
mereka, tetapi tidak jelas. Namun dibalik segala penderitaan yang dialami Hanna
dan Israel, YHWH merencanakan proyek besar untuk membawa Israel sampai pada
perubahan yang fundamental, yaitu percaya akan YHWH.[3]
2. Metode
Makalah ini akan menggunakan
metode studi kepustakaan. Untuk menafsirkan teks kitab suci, makalah ini akan
menggunakan motode sinkronis dan diakronis. Kedua metode itu digunakan untuk
mendapatkan keseimbangan informasi dari tema yang didapatkan dari perikopa 1
Samuel 1:1-28.
B. Isi
1. Hanna Seorang Mandul
Tampaknya
kemandulan mejadi persoalan yang amat serius dalam Perjanjian Lama. Pernikahan
yang tidak menghasilkan anak merupakan tanda putusnya silsilah yang telah lama
hidup, dan itu berarti daftar keturunan mejadi sirna atau punah. Melalui
kelahiran seorang anak (laki-laki), berarti nama keluarga nenek moyang mereka
tetap hidup selamanya. Dalam ayat 1 dikatakan sangat jelas mengenai hal
keturunan demikian, “ada seorang
laki-laki dari Ramataim- Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin
Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Yuf, seorang Efraim”. Oleh karenanya asal-usul
dan alamat Trah menjadi sangat detail
dan jelas dengan adanya keturunan.
Silsilah
yang telah hidup puluhan tahun, bahkan ratusan tahun tersebut akan hancur atau
mati karena kemandulan. Kemandulan membuat identitas keluarga menjadi hilang
dan mati. Oleh karena itu, seandainya ada suami yang mempunyai isteri mandul
biasanya mereka akan mencari isteri lain yang bisa memberi keturunan kepadanya.
Wanita yang tidak dapat memberikan anak untuk suaminya, berarti ia tidak mampu
memenuhi harapan suaminya untuk melanjutkan identitas keluarganya. Oleh karena
itulah ini biasa menjadi alasan untuk beristeri dua (bigami).[4] Seorang
isteri mandul yang mencintai suaminya boleh jadi mengusulkan kepadanya supaya
mengambil isteri yang kedua (Kej 16:1-3).[5]
a. Pergulatan Hanna sebagai Seorang Terkutuk
Kemandulan Hanna menimbukan
penderitaan tersendiri baginya. Tidak bisa memenuhi harapan suami untuk
mendapatkan anak, berarti juga mematikan identitas keluarga yang telah
terbentuk melalui silsilah. Daftar keturunan yang begitu panjang akan putus
karena adanya kemandulan. Secara tidak langsung, kemandulan Hanna membuat
keluarga Elkana menjadi terkutuk, mati, dan tidak ada penerus. Persoalan anak
tampakya menjadi penting karena mereka tidak memiliki harapan setelah kematian,
dan ketika mereka mempunyai anak, berarti hidup mereka diteruskan oleh
anak-anak mereka.[6]
‘Kebiasaan’ seorang isteri
yang mandul mengusulkan isteri baru bagi suaminya juga merupakan pergulatan
yang luar biasa bagi Hanna. Dalam kitab suci, khususnya pada ayat 6 secara
jelas dipaparkan bagaimana Hanna bergulat dengan perasaannya; “tetapi madunya
selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup
kandungannya”. Pernyataan dalam 1 Sam 1:6 tersebut mendeskripsikan tentang
perasaan Hanna sekaligus memberi tahu pembaca bahwa kemandulan Hanna bukanlah
dosa tetapi karena intervensi YHWH. Hal ini memuat artian bahwa dibalik
kemandulan Hanna, TUHAN memiliki rencana besar bagi Hanna dan juga Israel.
Walaupun demikian, label Hanna
sebagai orang yang “terkutuk” tetap menempel pada dirinya. Joel S. Baden dalam
tulisannya The Nature of Barreness in the
Hebrew Bible mengatakan bahwa,
from the perpective of the
blessed, “unblessed” signifies “Curse”especially for condition, fertility, that
is only two-sided: if an unblessed women is barren, and a curse women is
barren, then an easy question can be drawn”.[7]
Perspektif yang demikian, mau tidak mau membuat nama Hanna menjadi
tercemar. Tidak hanya dalam lingkungan keluarga saja, tetapi juga masyarakat
luas.
Orang-orang Israel pada saat itu
memiliki pemikiran bahwa kemandulan yang terjadi pada seseorang diakibatkan
karena dosa. Dapat dilihat dalam perjanjian vasal bahwa yang setia akan Allah
akan mendapat berkat, dan yang tidak setia pada Allah akan mendapat kutuk.
Kiranya perjanjian ini masih begitu kuat mereka hidupi, sehingga pandangan
masyarakat tentang kemandulan Hanna juga merupakan sebuah bentuk ketidaksetiaan
Hanna (atau Elkana) kepada Allah.
Nama Hanna itu sendiri
sebenarnya berhubungan dengan Grace[8] dalam
bahasa Inggris, yang artinya berkat. Oleh karena itu kemandulan yang diderita
oleh Hanna bukan sebuat kemandulan permanen atau kemandulan karena persoalan
bilogis semata, tetapi karena Rencana TUHAN.
b. Allah mengingat Hanna
Perikop 1 Samuel 1:1-28 ini terbagi menjadi
empat bagian kisah. Bagian tersebut dapat dituliskan demikian:
(First)
This scene is a transaction between Elkana and Hannah…. Hanna interact with
Eli, the priest at Shiloh. The second speech of Hannah is one of
self-vindication to refute Eli’s mistaken assesment of her (vv. 15-16). The
third speech is a response of Eli, an assurance and a benediction(v. 17).
(Fourth) In this scene Hannah is again with Elkanah, as in scene 1.[9]
Dalam bagian ketiga dan
keempat, dilukiskan bagaimana Hanna yang berada dalam keputusasaan (1Sam.1:15-16)
dan dengan perkataan Eli, Hanna mendapatkan pengharapannya kembali dan pergi
dengan senang. Dalam tradisi Yahwistik, imam merupakan perantara YHWH dan
manusia. Imam menjadi semacam jembatan antara YHWH dan manusia, supaya dua
pihak ini dapat berkomunikasi satu sama lain.
Perkataan yang dikatakan oleh
Eli menjadi tanda bahwa TUHAN mengingat Hanna. Deklarasi dari Eli bahwa “The God will (may) hear and answer”[10] akan
terlaksana. 1Samuel 1:20 menjadi bukti bahwa TUHAN mengingat dan mendengarkan
doa Hanna, pasalnya “maka setahun
kemudian mengandunglah Hanna dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai
anak itu Samuel, sebab katanya:Aku telah memintanya dari pada TUHAN”
Kandungan Hanna ini terjadi
bukan semata-mata terlaksana begitu saja. Namun dalam ayat-ayat sebelumnya
telah dikatakan bahwa ada semacam percakapan yang mendalam antara Hanna dan
TUHAN. Di sini ada perubahan dari keputusan menjadi kesalehan karena percaya
akan TUHAN. Hal ini ditampakkan ketika Hanna yakin dan tidak ragu akan
perkataan yang dikatakan oleh Eli “pergilah dengan selamat, dan Allah Israel
akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta”(1 Sam 1:17).
Iman yang ada dalam diri Hanna
itu menuntunnya pada sikap penyerahan total kepada TUHAN. Ini tampak dalam
janjinya kepada TUHAN,
“TUHAN semesta
alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan
mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan hamba-Mu
ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk
seumur hidupnya, dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya”(1Sam
1:11).
2. Kelahiran Samuel
Setelah
mengalami kemandulan yang cukup lama, akhirnya TUHAN mengingat Hanna. Doa-doa yang ia ungkapkan tampak
penuh dengan keluhan.[11] Keluhan
yang demikian besar ini menuntun Hanna pada sikap pasrah kepada TUHAN. Sikap
yang telah dibangun ini memberikan kelegaan kepada Hanna untuk hidup secara
lebih baik lagi. Hal ini terlihat ketika Hanna keluar dari Shilo.
Perkataan imam itu menghibur Hanna sedemikian rupa,
hingga ia keluar dengan muka yang senang; juga timbul lagi nafsu untuk makan
bersama dengan suaminya. Dipandang secara lahiriah, keadaannya tidak berubah.
Madunya masih ada, akan tetapi olok-oloknya tidak dipedulikannya lagi, karena
Hanna sudah mendapat keyakinan bahwa TUHAN mengabulkan doanya.[12]
Inilah awal baru dalam hidup
Hanna. Skema yang ada akan menjumpai pemenuhannya dalam kelahiran Samuel, anak
sulung Hanna.
a. Rencana Allah dibalik kemandulan
Joel
S. Baden[13]
mengumpulkan beberapa pokok pemikiran dari tokoh yang pernah mengutarakan
pendapatnya tentang kemandulan. Ia menggolongkan menjadi tiga poin pokok. Pertama,
kemandulan dikatakan dekat dengan situasi sakit (Ul 7:14-15); kedua, kemandulan
dikatakan sebagai situasi yang perlu untuk disembuhkan (Kej 20:17). Ketiga,
kemandulan selalu terkait dengan kontrol yang ilahi.[14]
Kemandulan
dapat dimengerti sebagai ketidakmampuan seseorang untuk menghasilkan anak.
Secara biologis, kemandulan dapat terjadi karena sel sperma dan ovarium tidak
dapat bertemu karena satu dan lain hal. Adapun penyebab kemandulan pada wanita,
seperti kerusakan ovarium, penyakit endrometiosis,
tubafalopi yang rusak atau tersumbat, ovulasi yang tidak normal, rahim
yang tidak normal, dan cairan pada leher rahim yang agresif.[15] Perihal
kemandulan yang diungkapkan oleh Joel S. Baden di atas, khususnya dalam poin
pertama dan kedua menjadi relevan ketika dilihat secara biologis. Sementara itu
pada poin pokok yang ketiga, akan lebih meyakinkan ketika itu dilihat dari
sudut pandang spiritualitas tradisi dan kitab suci.
Sampai saat ini kesan yang muncul
berkenaan dengan persoalan kemandulan, lebih condong pada poin pokok ketiga,
yaitu berkaitan erat dengan kontrol ilahi. Dengan fakta yang diberikan oleh
kitab suci, bukanlah kemandulan biologis
yang di derita oleh para wanita mandul dalam kitab suci, tetapi lebih
pada adanya intervensi YHWH. Dalam kasus Hanna, tidak ada tanda-tanda yang
menunjukkan penyembuhan Hanna dari sakit. Informasi yang didapat dalam kitab Samuel,
setelah Hanna berdoa dan mendapat peneguhan dari Eli, setahun kemudian ia
melahirkan anak (bdk.1Sam1:19-20). Biasanya ada beberapa kemungkinan yang dapat
dimengerti jika mendapati wanita yang mengalami kemandulan dalam kitab suci.
Pertama, karena pencobaan TUHAN (Kej.16;1Sam1:5). Kedua, karena hukuman atau
kutukan dari Allah (Kej 20:18; Ul 28:18).[16]
Oleh karena itulah kemandulan yang
dialamai oleh Hanna semata-mata karena rencana agung Allah. Dalam pandangan
umum, kemandulan merupakan sebuah kutuk dan sesuatu yang memalukan. Namun, bagi
wanita yang beriman, Allah akan menaruh belaskasih-Nya. Judette A. Gallares
mengatakan demikian,
“in a
culture where childlessness was considered a curse and a source of shame,
motherhood was the goal and fulfillment of every women. But to the childless
women who kept her faith, God’s mercy would be shown through the revelsal of
her barren condition”[17]
b. Bukti bahwa Allah tidak lupa akan umat-Nya
Kata
memperhatikan dan mengingat (1Sam.1:11), membawa pembaca pada peristiwa pembebasan
umat Israel dari perbudakan Mesir. Tampaknya, skema dalam kitab Samuel ini sama
dengan pola yang ada dalam kitab Keluaran (Kel. 2:24-25). Hanya saja jika
dibandingkan antara Samuel dan Keluaran, akan menjadi sedikit berbeda. Pola
kitab Keluaran mengatakan Allah mendengar, mengingat, melihat, dan
memperhatikan. Sementara dalam kitab Samuel, kata ‘memperhatikan’ diletakkan
lebih dulu dari pada kata ‘mengingat’.
Redaktor
kitab Samuel memberikan penekanan yang agak berbeda dengan kitab Keluaran. Tentu
saja bukan tanpa alasan kitab Samuel menempatkan kata ‘memperhatikan’ di depan.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, kondisi mandul dipandang sebagai kutuk,
hukuman, dan sesuatu yang memalukan. Oleh karena itu kata ‘memperhatikan’,
sebenarnya mengandung makna akan tindakan nyata yang ingin segera diterima oleh
Hanna, yaitu bebas dari olok-olokan khalayak umum. Ini tampak ketika Hanna
mendapat semacam peneguhan dari Eli dan kemudian keluar dari Shilo (bdk. 1Sam.
1:18).[18]
Keterangan menarik pada ayat tersebut adalah “lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi”.
Kata
‘mengingat’ dalam Kitab Keluaran menunjuk pada perjanjian antara Allah dan
Abraham, Ishak, dan Yakub (bdk. 1 Sam. 1:11,19 dan Kel.2:24). Salah satu janji
adalah soal keturunan. Oleh karena itu, Hanna memohon kepada Allah supaya Ia
berkenan mengingat janji itu. Alhasil tindakan Allah menjadi nyata dalam diri
Hanna. Tidak hanya terpenuhi sebagaimana Hanna memintanya, tetapi karena Hanna
setia dan menepati janjinya kepada TUHAN, Ia berkenan memberikan lebih daripada
yang diminta oleh Hanna. Allah memberikan dia tiga anak laki-laki dan dua anak
perempuan kepada Hanna (1Sam 2:21).
3. Samuel dipersembahkan kepada TUHAN
Setelah Samuel lahir, Hanna
masih menjaganya sampai Samuel disapih atau dalam bahasa kitab suci ‘cerai
susu’(1Sam 1:22). Rentang waktu Hanna bersama Samuel kurang lebih dua tahun.[19] Mempersembahkan
Samuel kepada TUHAN merupakan janji Hanna. Janji yang dibuat ini akan dipenuhi
oleh Hanna setelah Samuel sudah cerai susu, yaitu dengan membawanya ke Shilo.
Ada perdebatan diantara para
tokoh, apakah Samuel diserahkan secara penuh ke Shilo tanpa campur tangan Hanna
lagi, atau sebenarnya Hanna masih merawat Samuel. Bagi para comentator kitab
suci, menjadikan Samuel sebagai seorang Imam, sementara umurnya masih terlalu
kecil merupakan sesuatu yang tidak mungkin.[20] Oleh
karenanya ada satu pendapat yang mengatakan bahwa selama Samuel ada di Shilo,
Hanna masih terus mengunjunginya sampai ia tumbuh besar. Giuseppe Ricciotti,
mengatakan demikian,
“There he was visited from time to time by his mother, all the while
growing in stature and in goodness before Yahweh and before men (1Sam.2:26).”[21]
Samuel merupakan keturunan
seorang Lewi. Oleh karena itu, mempersembahkan Samuel ke Shilo dapat dikatakan
sebagai penggenapan dari Kitab Keluaran. Di sana dikatakan bahwa segala
keturunan lewi akan melakukan segala perkerjaan di kemah pertemuan.
“dan Aku akan menyerahkan orang Lewi dari
tengah-tengah orang Israel sebagai pemberian kepada Harun dan anak-anaknya
untuk melakukan segala pekerjaan jabatan bagi orang Israel di Kemah Pertemuan,
dan untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel, supaya orang Israel jangan
kena tulah apabila mereka mendekat ke tempat kudus” (Bil 8:19)
Dengan demikian, tidak begitu
memiliki banyak persoalan dalam
penafsirannya. Janji memang harus dipenuhi. Pemenuhan itu sebagai wujud
kesetiaan seseorang kepada TUHAN. Peristiwa kemandulan dan kelahiran Samuel
merupakan sebuah rencana besar Allah bagi Bangsa Israel. Oleh karena itu
mempersembahkan Samuel kepada Allah dalam Shilo adalah bagian dari rencana
Allah itu sendiri.
4. Teologi Kesulungan
Dalam budaya sehari-hari,
banyak orang beranggapan bahwa anak sulung memiliki kedudukan istimewa dalam
sebuah keluarga. Ada sebuah istilah bahwa anak sulung adalah tulang punggung
keluarga. Karena begitu istimewanya anak sulung itu, hal ini menyiratkan sebuah
tanggung jawab besar yang diemban oleh anak sulung.
Kesulungan kiranya juga
menjadi hal yang penting dalam kitab suci. Dalam kitab suci, hak kesulungan
tidak serta merta dikenakan pada anak yang pertama lahir dari kandungan seorang
wanita. Yongki Karman pernah menuliskan bahwa “Hak kesulungan tak selalu
melekat pada anak sulung”.[22] Inilah
yang menjadi keistimewaan dari pandangan kitab suci tentang anak sulung.
Walaupun terlahir lebih dulu, jika tidak mendapat berkat (bdk. Kej. 27:27-29) maka
hak kesulungan tidak bisa dikenakan pada anak sulung. Dengan demikian,
kesulungan dimengerti tidak hanya sebatas anak yang terlahir pertama, tetapi
anak yang mendapat berkat atas hak kesulungan.
Dalam tradisi Israel, anak
sulung mendapatkan hak kesulungannya berupa tanah lebih besar daripada anak
yang lainnya. Putra sulung memiliki hak kesulungan dalam bentuk harta warisan
dua kali lebih banyak dari anak lain.[23] Dalam kitab suci dapat dilihat bahwa Israel
disebut sebagai anak sulung (bdk. Kel.4:22). Dalam sejarah hidup bangsa Israel,
tampak bahwa relasi yang terjalin antara YHWH dan Israel ini merupakan relasi
ayah dengan anak. Tindakan Allah menghukum Israel dilihat sebagai tindakan
untuk mendisiplinkan anak.[24]
Dalam kitab Keluaran
disebutkan demikian, “ haruslah kaupersembahkan bagi TUHAN segala yang lahir
terdahulu dari kandungan; juga setiap kali ada hewan yang kau punyai beranak
pertama kali, anak jantan yang sulung adalah bagi TUHAN (Kel. 13:12). Dari
kutipan di atas dapat diketahui bahwa yang lahir pertama merupakan milik TUHAN.
Kalau dikaitkan dengan Samuel sebagai anak yang lahir pertama dari rahim Hana,
maka sangat wajar jika Samuel menjadi milik TUHAN. Jika melompat lebih jauh
lagi kedalam Perjanjian Baru, Fred B. Craddock menunjukkan bahwa Yesus memiliki
kesamaan dengan Samuel ketika dipersembahkan ke Bait Allah.
“Jesus is therefore like Samuel, who was dadicated to
God and who, after having been weaned, went to live in the temple (I Sam. 1-2).
More of Samuel will appear in the next story about Jesus in the temple.”[25]
Oleh
karena itu, teologi kesulungan berlaku pertama-tama memang untuk mereka yang
lahir pertama kali dari rahim seorang ibu, tetapi dalam kitab suci ditunjukkan
bahwa hak kesulungan dapat berpindah tangan kepada anak yang lain, dengan
memperoleh berkat dari Allah.
C. Penutup
Informasi yang
didapatkan dalam uraian di atas kiranya telah mencukupi untuk menarik suatu
kesimpulan akhir berkaitan dengan masalah kemandulan Hanna. Intervensi YHWH
dalam perikopa 1Samuel 1:1-28 sangat tampak dalam diri Hanna. Peristiwa
kemandulan yang dialami oleh Hanna bukanlah sebuah masalah biologis, tetapi
karena campur tangan YHWH yang memiliki proyek besar untuk membebaskan Israel
dari keterpurukan. Melalui rahim Hanna, YHWH telah menyiapkan seorang nabi
besar untuk menjadi perantara YHWH memilih seorang raja yang didambakan Israel
sekian lama.
Oleh
karenanya, perbandingan persoalan kemandulan Hanna dan juga persoalan penantian
Israel akan seorang raja pembebas dapat disandingkan satu sama lain. Kemandulan
Hanna dapat dikatakan sebagai miniatur dari situasi Israel yang kacau dalam
banyak hal. Hanna kiranya menjadi gambaran yang tepat untuk menggambarkan
penantian bangsa Israel akan seorang raja tersebut. Kisah Hanna menjadi kisah
yang paling tepat karena dikisahkan cukup lengkap, sehingga informasi yang
didapat benar-benar akurat.
Daftar
Pustaka
Buku
Brueggemann,
Walter,
1990 Interpretation First and Second Samuel,
John Knox Press, United State of America.
Craddock, Fred B.,
1990 Luke Interpretation: A Bible Commentary for
teaching ang Preaching, John Knox Press, Louisville.
Gallares, Judette A.,
1992 Images of Faith: Spirituality of Women in the
Old Testament, Orbis Books, New York.
Kyle McCarter, P.,
1980 1 Samuel: A New Translation, Notes, &
Comentary, Doubleday & Company,
New York.
Preserved Smith, Henry,
1977 Critical
and Exegetical Comentary on The Book of Samuel, Edinburgh, Scotland.
Ricciotti, Giuseppe,
1958 The
History of Israel: Volume 1 From the Beginning to the exile,The Bruce
Publishing Company, Milwaukee.
Röthlisberger, H.,
1983 Tafsir
Alkitab 1 Samuel, BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Artikel
Baden, Joel, S.,
2011 “The Nature of Barreness in the Hebrew Bible”,
dalam Disability Studies and Biblical
literature, Palgrave, Macmillan.
Karman, Yongki,
2014 “Nilai Anak Sulung dalam Tradisi Israel”,
Wacana Biblika, vol. 14, No. 1, 11-18.
Sanjaya, Indra,
2014 “Nasib
Perempuan-Perempuan Mandul dalam Alkitab”, Wacana Biblika,vol.14 no.1,19-27.
Power Point Yetti
Wira Citerawati, bertemakan ‘Kemandulan’.
[1] “kita akan
segera belajar dari cerita naratif yang menjadikan bangsa Israel menjadi bangsa marginal
karena bangsa Filistin. Dari segi ancaman dari luar, Israel secara politik lemah
dan secara ekonomi kurang”.
Walter
Brueggemann, Interpretation First and
Second Samuel, John Knox Press, United State of America, 1990,10.
[2] Bdk. Walter
Brueggemann, Interpretation First and
Second Samuel,10. “by the end of the
book of Judges, Israel is shown to be a community in moral chaos, engaged in
brutality(Chs. 19-20) and betrayed by undiciplined religion(Chs. 17-18). Israel
does not seem to have the capacity or the will to extricate itself from its
troubles”.
[3] Bdk.Walter
Brueggemann, Interpretation First and
Second Samuel,11. “with David’s
appearance Israel fortunes begin to change, and the change is known in Israel
to be the work of God”.
[6] Bdk. H.
Röthlisberger, Tafsir Alkitab 1 Samuel,
BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1983,15. “ kita dapat membedakan dua sebab mengapa
anak-anak dianggap begitu penting dikalangan orang Israel. Pertama, kepada
mereka yang sudah turun ke alam maut tidak diberitakan kasih Allah. mereka
tidak mengetahui lagi keajaiban dan keadilan Tuhan dan tidak dapat memuji Dia,
bahkan mereka terputus dari kuasa Tuhan, karena ia tidak ingat lagi akan orang
yang telah turun ke liang kubur (lih. Mzr 88). Akan tetapi rupa-rupanya nasib
seperti itu tidak mengejutkan seorang israel, jika ia mempunyai anak-anak,
karena hidupnya seolah-olah diteruskan di dalam keturunannya”.
[8] Henry
Preserved Smith, Critical and Exegetical
Comentary on The Book of Samuel, Edinburgh, Scotland,1977,05.
[9] “ (Pertama)
skenario ini merupakan sebuah transaksi antara Elkana dan Hanna…. Hanna
berinteraksi dengan Eli, imam di Shilo. Pembicaraan kedua tentang Hanna adalah
perihal penilaian Eli yang salah terhadap Hanna(ayat 15-16). Bagian ketiga
merupakan jawaban Eli, sebuah jaminan dan sebuah pengudusan(Ayat 17). (keempat)
dalam sekenario ini Hanna kembali lagi bersama Elkana sebagaimana telah
disebutkan dalam bagian pertama”. Kata first
dan Fourth yang ada di dalam tanda kurung
merupakan tambahan dari penulis. Lihat Walter Brueggemann, Interpretation First and Second Samuel, John Knox Press, United
State of America, 1990,13-14.
[11] Kata yang
digunakan untuk menggambarkan doa Hanna adalah kata ‘Complaint Prayer’. Ini menunjukkan bahwa Hanna merasa tidak nyaman
dengan situasi yang sedang ia rasakan. Bdk. Walter Brueggemann, Interpretation First and Second Samuel,13.
[13] Joel S.
Baden, The Nature of Barreness in the
Hebrew Bible, dalam Disability Studies and Biblical Literature, Palgrave,
Macmillan,2011,13-27.
[14] Lih. Joel
S. Baden, The Nature of Barreness in the
Hebrew Bible,13. “He makes three main
points in this regard: first, that barreness is mentioned in close context with
illness(Deut 7:14-15); second, that barreness is said to be “healed”(Gen
20:17); third, thar barreness appears to
be “under control of a divine ‘sender/controller’”(followong the terminology of
Hector Avalos).
[15] Penyebab
terjadinya kemandulan ini disadur dari sebuah Power Point yang disusun oleh Yetti Wira Citerawati, yang
bertemakan ‘Kemandulan’.
[16] Lihat dan
Bandingkan, Indra Sanjaya, Nasib
Perempuan-Perempuan Mandul dalam Alkitab, Wacana Biblika,vol.14 no.1,
2014,21. “ kemandulan dipandang sebagai pencobaan (Kej.16:2; 30:2; 1Sam.1:5)
atau sebagai hukuman dari Allah (Kej. 20:18). Selain itu kemandulan juga dipandang
sebagai sebuah cela yang memalikan. Kemandulan membuat orang tidak berharga dan
menjadi bahan olok-olokan, seperti dialami oleh Hanna, istri Elkana, di hadapan
Penina, madunya (1Sam. 1:6-8)”.
[17] Judette A.
Gallares, Images of Faith: Spirituality
of Women in the Old Testament, Orbis Books, New York,1992,173.
[18] Bdk. P.
Kyle McCarter, 1 Samuel: A New
Translation, Notes, & Comentary, Doubleday & Company, New York, 1980,55. Secara lebih rinci
diungkapkan demikian oleh P. Kyle, “the
women went her way, and when she came to the(LXX her) chamber, she ate with her
husband and drunk”.
[19] Bdk. Henry
Preserved Smith, A Critical and
Exegetical Comentary, T.&T. Clark, Edinburg,1977,12.
[20] “Some commentators have though it imposible
that the boy could be actually delivered to the priest at so early an age, and
have tried to interpret the verb weaned in a figurative sense.” Henry
Preserved Smith, A Critical and
Exegetical Comentary, 12.
[21] Giuseppe
Ricciotti, The History of Israel: Volume
1 From the Beginning to the exile,The Bruce Publishing Company,
Milwaukee,1958,264.
[22] Yongki
Karman, Nilai Anak Sulung dalam Tradisi
Israel, dalam wacana Biblika, vol. 14, No. 1, 2014,13.
[25] Fred B.
Craddock, Luke Interpretation: A Bible
Commentary for teaching ang Preaching, John Knox Press, Louisville,1990,38.
Komentar
Posting Komentar