Kemandulan dan Rencana Allah



RENCANA ALLAH BAGI ISRAEL YANG NYATA DALAM DIRI HANNA
Metho
A.    Pendahuluan
1.    Latar belakang pemilihan tema
Pada masa Yosua, umat Israel masuk dalam tanah terjanji, yaitu tanah Kanaan. Namun karena raja-raja dan kedosaan, terpaksa mereka harus meninggalkan tanah terjanji itu dengan keadaan yang memprihatinkan. Secara politis dan ekonomi, Israel termasuk dalam golongan submarginal, sehingga pengaruh atau tekanan dari bangsa lain menjadi sangat dominan.
Dalam buku Interpretation First and Second Samuel dikatakan demikian;
 we are soon to learn from the narative that Israel is made marginal by the power of the Philistines. In the face of that external threat, Israel  is politically weak and economically disadvataged”.[1]
 Dengan kata lain, Israel sebenarnya bukanlah bangsa yang mampu hidup tanpa ada campur tangan dari bangsa Filistin. Tindakan mereka tidak lagi didasarkan pada kehendak YHWH, tetapi otoritas politik dan ekonomi Filistin. Situasi yang demikian mengakibatkan hidup bangsa Israel menjadi semakin kacau.
Tidak hanya persoalan ekonomi dan politik, persoalan moral dan teologi  yang dialami bangsa Israel membuat ‘jurang’ antara Israel dan YHWH semakin lebar. Identitas sebagai bangsa terpilih menjadi semakin kabur. Dalam kitab Hakim-hakim diungkapkan dengan jelas kekacauan Israel. Mereka mulai menghianati agama YHWH, dengan menyembah berhala-berhala (Hak 17-18), mereka juga di gambarkan sebagai sebuah komunitas yang mengalami kekacauan moral, mereka melakukan hal-hal yang bengis dan jahat.[2]
Mereka tampak tidak memiliki harapan masa depan yang cerah. Kekacauan yang begitu besar ini membuat Israel tidak mampu lagi melepaskan diri dari belenggu masalah-masalah yang ada. Oleh karena itulah sosok seorang raja sangat penting bagi Israel supaya mereka dapat keluar dari segala persoalan yang mereka hadapi.
Penantian Israel untuk memiliki seorang raja tampak tidak mempunyai masa depan. Sebagaiman Hanna, kemandulan seolah membuat dia putus harapan, sakit karena Elkana memiliki Isteri baru yang mampu memberikan keturunan, dan cap seorang yang terkutuk dari banyak orang disekitarnya membuat hatinya kian berduka. Inilah yang dapat dibandingkan dengan penantian Israel akan seorang raja yang mampu membebasakan mereka, tetapi tidak jelas. Namun dibalik segala penderitaan yang dialami Hanna dan Israel, YHWH merencanakan proyek besar untuk membawa Israel sampai pada perubahan yang fundamental, yaitu percaya akan YHWH.[3]

2.    Metode
Makalah ini akan menggunakan metode studi kepustakaan. Untuk menafsirkan teks kitab suci, makalah ini akan menggunakan motode sinkronis dan diakronis. Kedua metode itu digunakan untuk mendapatkan keseimbangan informasi dari tema yang didapatkan dari perikopa 1 Samuel 1:1-28.

B.     Isi
1.      Hanna Seorang Mandul
Tampaknya kemandulan mejadi persoalan yang amat serius dalam Perjanjian Lama. Pernikahan yang tidak menghasilkan anak merupakan tanda putusnya silsilah yang telah lama hidup, dan itu berarti daftar keturunan mejadi sirna atau punah. Melalui kelahiran seorang anak (laki-laki), berarti nama keluarga nenek moyang mereka tetap hidup selamanya. Dalam ayat 1 dikatakan sangat jelas mengenai hal keturunan  demikian, “ada seorang laki-laki dari Ramataim- Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Yuf, seorang Efraim”. Oleh karenanya asal-usul dan alamat Trah menjadi sangat detail dan jelas dengan adanya keturunan.
Silsilah yang telah hidup puluhan tahun, bahkan ratusan tahun tersebut akan hancur atau mati karena kemandulan. Kemandulan membuat identitas keluarga menjadi hilang dan mati. Oleh karena itu, seandainya ada suami yang mempunyai isteri mandul biasanya mereka akan mencari isteri lain yang bisa memberi keturunan kepadanya. Wanita yang tidak dapat memberikan anak untuk suaminya, berarti ia tidak mampu memenuhi harapan suaminya untuk melanjutkan identitas keluarganya. Oleh karena itulah ini biasa menjadi alasan untuk beristeri dua (bigami).[4] Seorang isteri mandul yang mencintai suaminya boleh jadi mengusulkan kepadanya supaya mengambil isteri yang kedua (Kej 16:1-3).[5]
a.    Pergulatan Hanna sebagai Seorang Terkutuk
Kemandulan Hanna menimbukan penderitaan tersendiri baginya. Tidak bisa memenuhi harapan suami untuk mendapatkan anak, berarti juga mematikan identitas keluarga yang telah terbentuk melalui silsilah. Daftar keturunan yang begitu panjang akan putus karena adanya kemandulan. Secara tidak langsung, kemandulan Hanna membuat keluarga Elkana menjadi terkutuk, mati, dan tidak ada penerus. Persoalan anak tampakya menjadi penting karena mereka tidak memiliki harapan setelah kematian, dan ketika mereka mempunyai anak, berarti hidup mereka diteruskan oleh anak-anak mereka.[6]
‘Kebiasaan’ seorang isteri yang mandul mengusulkan isteri baru bagi suaminya juga merupakan pergulatan yang luar biasa bagi Hanna. Dalam kitab suci, khususnya pada ayat 6 secara jelas dipaparkan bagaimana Hanna bergulat dengan perasaannya; “tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya”. Pernyataan dalam 1 Sam 1:6 tersebut mendeskripsikan tentang perasaan Hanna sekaligus memberi tahu pembaca bahwa kemandulan Hanna bukanlah dosa tetapi karena intervensi YHWH. Hal ini memuat artian bahwa dibalik kemandulan Hanna, TUHAN memiliki rencana besar bagi Hanna dan juga Israel.
Walaupun demikian, label Hanna sebagai orang yang “terkutuk” tetap menempel pada dirinya. Joel S. Baden dalam tulisannya The Nature of Barreness in the Hebrew Bible  mengatakan bahwa,
from the perpective of the blessed, “unblessed” signifies “Curse”especially for condition, fertility, that is only two-sided: if an unblessed women is barren, and a curse women is barren, then an easy question can be drawn”.[7]
Perspektif yang demikian, mau tidak mau membuat nama Hanna menjadi tercemar. Tidak hanya dalam lingkungan keluarga saja, tetapi juga masyarakat luas.
Orang-orang Israel pada saat itu memiliki pemikiran bahwa kemandulan yang terjadi pada seseorang diakibatkan karena dosa. Dapat dilihat dalam perjanjian vasal bahwa yang setia akan Allah akan mendapat berkat, dan yang tidak setia pada Allah akan mendapat kutuk. Kiranya perjanjian ini masih begitu kuat mereka hidupi, sehingga pandangan masyarakat tentang kemandulan Hanna juga merupakan sebuah bentuk ketidaksetiaan Hanna (atau Elkana) kepada Allah.
Nama Hanna itu sendiri sebenarnya berhubungan dengan Grace[8] dalam bahasa Inggris, yang artinya berkat. Oleh karena itu kemandulan yang diderita oleh Hanna bukan sebuat kemandulan permanen atau kemandulan karena persoalan bilogis semata, tetapi karena Rencana TUHAN.
b.   Allah mengingat Hanna
 Perikop 1 Samuel 1:1-28 ini terbagi menjadi empat bagian kisah. Bagian tersebut dapat dituliskan demikian:
(First) This scene is a transaction between Elkana and Hannah…. Hanna interact with Eli, the priest at Shiloh. The second speech of Hannah is one of self-vindication to refute Eli’s mistaken assesment of her (vv. 15-16). The third speech is a response of Eli, an assurance and a benediction(v. 17). (Fourth) In this scene Hannah is again with Elkanah, as in scene 1.[9]
Dalam bagian ketiga dan keempat, dilukiskan bagaimana Hanna yang berada dalam keputusasaan (1Sam.1:15-16) dan dengan perkataan Eli, Hanna mendapatkan pengharapannya kembali dan pergi dengan senang. Dalam tradisi Yahwistik, imam merupakan perantara YHWH dan manusia. Imam menjadi semacam jembatan antara YHWH dan manusia, supaya dua pihak ini dapat berkomunikasi satu sama lain.
Perkataan yang dikatakan oleh Eli menjadi tanda bahwa TUHAN mengingat Hanna. Deklarasi dari Eli bahwa “The God will (may) hear and answer[10] akan terlaksana. 1Samuel 1:20 menjadi bukti bahwa TUHAN mengingat dan mendengarkan doa Hanna, pasalnya “maka setahun kemudian mengandunglah Hanna dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya:Aku telah memintanya dari pada TUHAN
Kandungan Hanna ini terjadi bukan semata-mata terlaksana begitu saja. Namun dalam ayat-ayat sebelumnya telah dikatakan bahwa ada semacam percakapan yang mendalam antara Hanna dan TUHAN. Di sini ada perubahan dari keputusan menjadi kesalehan karena percaya akan TUHAN. Hal ini ditampakkan ketika Hanna yakin dan tidak ragu akan perkataan yang dikatakan oleh Eli “pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta”(1 Sam 1:17).
Iman yang ada dalam diri Hanna itu menuntunnya pada sikap penyerahan total kepada TUHAN. Ini tampak dalam janjinya kepada TUHAN,
TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya, dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya”(1Sam 1:11).

2.      Kelahiran Samuel
Setelah mengalami kemandulan yang cukup lama, akhirnya TUHAN mengingat Hanna. Doa-doa yang ia ungkapkan tampak penuh dengan keluhan.[11] Keluhan yang demikian besar ini menuntun Hanna pada sikap pasrah kepada TUHAN. Sikap yang telah dibangun ini memberikan kelegaan kepada Hanna untuk hidup secara lebih baik lagi. Hal ini terlihat ketika Hanna keluar dari Shilo.
Perkataan imam itu menghibur Hanna sedemikian rupa, hingga ia keluar dengan muka yang senang; juga timbul lagi nafsu untuk makan bersama dengan suaminya. Dipandang secara lahiriah, keadaannya tidak berubah. Madunya masih ada, akan tetapi olok-oloknya tidak dipedulikannya lagi, karena Hanna sudah mendapat keyakinan bahwa TUHAN mengabulkan doanya.[12]
Inilah awal baru dalam hidup Hanna. Skema yang ada akan menjumpai pemenuhannya dalam kelahiran Samuel, anak sulung Hanna.



a.      Rencana Allah dibalik kemandulan
Joel S. Baden[13] mengumpulkan beberapa pokok pemikiran dari tokoh yang pernah mengutarakan pendapatnya tentang kemandulan. Ia menggolongkan menjadi tiga poin pokok. Pertama, kemandulan dikatakan dekat dengan situasi sakit (Ul 7:14-15); kedua, kemandulan dikatakan sebagai situasi yang perlu untuk disembuhkan (Kej 20:17). Ketiga, kemandulan selalu terkait dengan kontrol yang ilahi.[14]
Kemandulan dapat dimengerti sebagai ketidakmampuan seseorang untuk menghasilkan anak. Secara biologis, kemandulan dapat terjadi karena sel sperma dan ovarium tidak dapat bertemu karena satu dan lain hal. Adapun penyebab kemandulan pada wanita, seperti kerusakan ovarium, penyakit endrometiosis, tubafalopi yang rusak atau tersumbat, ovulasi yang tidak normal, rahim yang tidak normal, dan cairan pada leher rahim yang agresif.[15] Perihal kemandulan yang diungkapkan oleh Joel S. Baden di atas, khususnya dalam poin pertama dan kedua menjadi relevan ketika dilihat secara biologis. Sementara itu pada poin pokok yang ketiga, akan lebih meyakinkan ketika itu dilihat dari sudut pandang spiritualitas tradisi dan kitab suci.  
         Sampai saat ini kesan yang muncul berkenaan dengan persoalan kemandulan, lebih condong pada poin pokok ketiga, yaitu berkaitan erat dengan kontrol ilahi. Dengan fakta yang diberikan oleh kitab suci, bukanlah kemandulan biologis  yang di derita oleh para wanita mandul dalam kitab suci, tetapi lebih pada adanya intervensi YHWH. Dalam kasus Hanna, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan penyembuhan Hanna dari sakit. Informasi yang didapat dalam kitab Samuel, setelah Hanna berdoa dan mendapat peneguhan dari Eli, setahun kemudian ia melahirkan anak (bdk.1Sam1:19-20). Biasanya ada beberapa kemungkinan yang dapat dimengerti jika mendapati wanita yang mengalami kemandulan dalam kitab suci. Pertama, karena pencobaan TUHAN (Kej.16;1Sam1:5). Kedua, karena hukuman atau kutukan dari Allah (Kej 20:18; Ul 28:18).[16]
         Oleh karena itulah kemandulan yang dialamai oleh Hanna semata-mata karena rencana agung Allah. Dalam pandangan umum, kemandulan merupakan sebuah kutuk dan sesuatu yang memalukan. Namun, bagi wanita yang beriman, Allah akan menaruh belaskasih-Nya. Judette A. Gallares mengatakan demikian,
“in a culture where childlessness was considered a curse and a source of shame, motherhood was the goal and fulfillment of every women. But to the childless women who kept her faith, God’s mercy would be shown through the revelsal of her barren condition”[17]

b.      Bukti bahwa Allah tidak lupa akan umat-Nya
Kata memperhatikan dan mengingat (1Sam.1:11), membawa pembaca pada peristiwa pembebasan umat Israel dari perbudakan Mesir. Tampaknya, skema dalam kitab Samuel ini sama dengan pola yang ada dalam kitab Keluaran (Kel. 2:24-25). Hanya saja jika dibandingkan antara Samuel dan Keluaran, akan menjadi sedikit berbeda. Pola kitab Keluaran mengatakan Allah mendengar, mengingat, melihat, dan memperhatikan. Sementara dalam kitab Samuel, kata ‘memperhatikan’ diletakkan lebih dulu dari pada kata ‘mengingat’.
Redaktor kitab Samuel memberikan penekanan yang agak berbeda dengan kitab Keluaran. Tentu saja bukan tanpa alasan kitab Samuel menempatkan kata ‘memperhatikan’ di depan. Sebagaimana telah diuraikan di atas, kondisi mandul dipandang sebagai kutuk, hukuman, dan sesuatu yang memalukan. Oleh karena itu kata ‘memperhatikan’, sebenarnya mengandung makna akan tindakan nyata yang ingin segera diterima oleh Hanna, yaitu bebas dari olok-olokan khalayak umum. Ini tampak ketika Hanna mendapat semacam peneguhan dari Eli dan kemudian keluar dari Shilo (bdk. 1Sam. 1:18).[18] Keterangan menarik pada ayat tersebut adalah “lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi”.
Kata ‘mengingat’ dalam Kitab Keluaran menunjuk pada perjanjian antara Allah dan Abraham, Ishak, dan Yakub (bdk. 1 Sam. 1:11,19 dan Kel.2:24). Salah satu janji adalah soal keturunan. Oleh karena itu, Hanna memohon kepada Allah supaya Ia berkenan mengingat janji itu. Alhasil tindakan Allah menjadi nyata dalam diri Hanna. Tidak hanya terpenuhi sebagaimana Hanna memintanya, tetapi karena Hanna setia dan menepati janjinya kepada TUHAN, Ia berkenan memberikan lebih daripada yang diminta oleh Hanna. Allah memberikan dia tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan kepada Hanna (1Sam 2:21).
3.      Samuel dipersembahkan kepada TUHAN
Setelah Samuel lahir, Hanna masih menjaganya sampai Samuel disapih atau dalam bahasa kitab suci ‘cerai susu’(1Sam 1:22). Rentang waktu Hanna bersama Samuel kurang lebih dua tahun.[19] Mempersembahkan Samuel kepada TUHAN merupakan janji Hanna. Janji yang dibuat ini akan dipenuhi oleh Hanna setelah Samuel sudah cerai susu, yaitu dengan membawanya ke Shilo.
Ada perdebatan diantara para tokoh, apakah Samuel diserahkan secara penuh ke Shilo tanpa campur tangan Hanna lagi, atau sebenarnya Hanna masih merawat Samuel. Bagi para comentator kitab suci, menjadikan Samuel sebagai seorang Imam, sementara umurnya masih terlalu kecil merupakan sesuatu yang tidak mungkin.[20] Oleh karenanya ada satu pendapat yang mengatakan bahwa selama Samuel ada di Shilo, Hanna masih terus mengunjunginya sampai ia tumbuh besar. Giuseppe Ricciotti, mengatakan demikian,
“There he was visited from time to time by his mother, all the while growing in stature and in goodness before Yahweh and before men (1Sam.2:26).”[21]
Samuel merupakan keturunan seorang Lewi. Oleh karena itu, mempersembahkan Samuel ke Shilo dapat dikatakan sebagai penggenapan dari Kitab Keluaran. Di sana dikatakan bahwa segala keturunan lewi akan melakukan segala perkerjaan di kemah pertemuan.
“dan Aku akan menyerahkan orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel sebagai pemberian kepada Harun dan anak-anaknya untuk melakukan segala pekerjaan jabatan bagi orang Israel di Kemah Pertemuan, dan untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel, supaya orang Israel jangan kena tulah apabila mereka mendekat ke tempat kudus” (Bil 8:19)

Dengan demikian, tidak begitu memiliki banyak  persoalan dalam penafsirannya. Janji memang harus dipenuhi. Pemenuhan itu sebagai wujud kesetiaan seseorang kepada TUHAN. Peristiwa kemandulan dan kelahiran Samuel merupakan sebuah rencana besar Allah bagi Bangsa Israel. Oleh karena itu mempersembahkan Samuel kepada Allah dalam Shilo adalah bagian dari rencana Allah itu sendiri.

4.      Teologi Kesulungan
Dalam budaya sehari-hari, banyak orang beranggapan bahwa anak sulung memiliki kedudukan istimewa dalam sebuah keluarga. Ada sebuah istilah bahwa anak sulung adalah tulang punggung keluarga. Karena begitu istimewanya anak sulung itu, hal ini menyiratkan sebuah tanggung jawab besar yang diemban oleh anak sulung.
Kesulungan kiranya juga menjadi hal yang penting dalam kitab suci. Dalam kitab suci, hak kesulungan tidak serta merta dikenakan pada anak yang pertama lahir dari kandungan seorang wanita. Yongki Karman pernah menuliskan bahwa “Hak kesulungan tak selalu melekat pada anak sulung”.[22] Inilah yang menjadi keistimewaan dari pandangan kitab suci tentang anak sulung. Walaupun terlahir lebih dulu, jika tidak mendapat berkat (bdk. Kej. 27:27-29) maka hak kesulungan tidak bisa dikenakan pada anak sulung. Dengan demikian, kesulungan dimengerti tidak hanya sebatas anak yang terlahir pertama, tetapi anak yang mendapat berkat atas hak kesulungan.
Dalam tradisi Israel, anak sulung mendapatkan hak kesulungannya berupa tanah lebih besar daripada anak yang lainnya. Putra sulung memiliki hak kesulungan dalam bentuk harta warisan dua kali lebih banyak dari anak lain.[23]  Dalam kitab suci dapat dilihat bahwa Israel disebut sebagai anak sulung (bdk. Kel.4:22). Dalam sejarah hidup bangsa Israel, tampak bahwa relasi yang terjalin antara YHWH dan Israel ini merupakan relasi ayah dengan anak. Tindakan Allah menghukum Israel dilihat sebagai tindakan untuk mendisiplinkan anak.[24]
Dalam kitab Keluaran disebutkan demikian, “ haruslah kaupersembahkan bagi TUHAN segala yang lahir terdahulu dari kandungan; juga setiap kali ada hewan yang kau punyai beranak pertama kali, anak jantan yang sulung adalah bagi TUHAN (Kel. 13:12). Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa yang lahir pertama merupakan milik TUHAN. Kalau dikaitkan dengan Samuel sebagai anak yang lahir pertama dari rahim Hana, maka sangat wajar jika Samuel menjadi milik TUHAN. Jika melompat lebih jauh lagi kedalam Perjanjian Baru, Fred B. Craddock menunjukkan bahwa Yesus memiliki kesamaan dengan Samuel ketika dipersembahkan ke Bait Allah.
“Jesus is therefore like Samuel, who was dadicated to God and who, after having been weaned, went to live in the temple (I Sam. 1-2). More of Samuel will appear in the next story about Jesus in the temple.”[25]

Oleh karena itu, teologi kesulungan berlaku pertama-tama memang untuk mereka yang lahir pertama kali dari rahim seorang ibu, tetapi dalam kitab suci ditunjukkan bahwa hak kesulungan dapat berpindah tangan kepada anak yang lain, dengan memperoleh berkat dari Allah.
C.    Penutup
Informasi yang didapatkan dalam uraian di atas kiranya telah mencukupi untuk menarik suatu kesimpulan akhir berkaitan dengan masalah kemandulan Hanna. Intervensi YHWH dalam perikopa 1Samuel 1:1-28 sangat tampak dalam diri Hanna. Peristiwa kemandulan yang dialami oleh Hanna bukanlah sebuah masalah biologis, tetapi karena campur tangan YHWH yang memiliki proyek besar untuk membebaskan Israel dari keterpurukan. Melalui rahim Hanna, YHWH telah menyiapkan seorang nabi besar untuk menjadi perantara YHWH memilih seorang raja yang didambakan Israel sekian lama.
Oleh karenanya, perbandingan persoalan kemandulan Hanna dan juga persoalan penantian Israel akan seorang raja pembebas dapat disandingkan satu sama lain. Kemandulan Hanna dapat dikatakan sebagai miniatur dari situasi Israel yang kacau dalam banyak hal. Hanna kiranya menjadi gambaran yang tepat untuk menggambarkan penantian bangsa Israel akan seorang raja tersebut. Kisah Hanna menjadi kisah yang paling tepat karena dikisahkan cukup lengkap, sehingga informasi yang didapat benar-benar akurat.

Daftar Pustaka
Buku
Brueggemann, Walter,
1990   Interpretation First and Second Samuel, John Knox Press, United State of America.
Craddock, Fred B.,
1990    Luke Interpretation: A Bible Commentary for teaching ang Preaching, John Knox Press, Louisville.
Gallares, Judette A.,
1992      Images of Faith: Spirituality of Women in the Old Testament, Orbis Books, New York.
Kyle McCarter, P.,
1980       1 Samuel: A New Translation, Notes, & Comentary, Doubleday & Company,  New York.
Preserved Smith, Henry,
 1977   Critical and Exegetical Comentary on The Book of Samuel, Edinburgh, Scotland.
Ricciotti, Giuseppe,
 1958     The History of Israel: Volume 1 From the Beginning to the exile,The Bruce Publishing Company, Milwaukee.
Röthlisberger, H.,
            1983    Tafsir Alkitab 1 Samuel, BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Artikel
Baden, Joel, S.,
2011    The Nature of Barreness in the Hebrew Bible”, dalam Disability Studies and Biblical literature, Palgrave, Macmillan.
Karman, Yongki,
2014    Nilai Anak Sulung dalam Tradisi Israel”, Wacana Biblika, vol. 14, No. 1, 11-18.
Sanjaya, Indra,
 2014   Nasib Perempuan-Perempuan Mandul dalam Alkitab”, Wacana Biblika,vol.14 no.1,19-27.
Power Point Yetti Wira Citerawati, bertemakan ‘Kemandulan’.


[1] “kita akan segera belajar dari cerita naratif yang menjadikan bangsa Israel menjadi bangsa marginal karena bangsa Filistin. Dari segi ancaman dari luar, Israel secara politik lemah dan secara ekonomi kurang”. Walter Brueggemann, Interpretation First and Second Samuel, John Knox Press, United State of America, 1990,10.
[2] Bdk. Walter Brueggemann, Interpretation First and Second Samuel,10. “by the end of the book of Judges, Israel is shown to be a community in moral chaos, engaged in brutality(Chs. 19-20) and betrayed by undiciplined religion(Chs. 17-18). Israel does not seem to have the capacity or the will to extricate itself from its troubles”.
[3] Bdk.Walter Brueggemann, Interpretation First and Second Samuel,11. “with David’s appearance Israel fortunes begin to change, and the change is known in Israel to be the work of God”.
[4] H. Röthlisberger, Tafsir Alkitab 1 Samuel, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1983,15.
[5] H. Röthlisberger, Tafsir Alkitab 1 Samuel ,15.
[6] Bdk. H. Röthlisberger, Tafsir Alkitab 1 Samuel, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1983,15. “ kita dapat membedakan dua sebab mengapa anak-anak dianggap begitu penting dikalangan orang Israel. Pertama, kepada mereka yang sudah turun ke alam maut tidak diberitakan kasih Allah. mereka tidak mengetahui lagi keajaiban dan keadilan Tuhan dan tidak dapat memuji Dia, bahkan mereka terputus dari kuasa Tuhan, karena ia tidak ingat lagi akan orang yang telah turun ke liang kubur (lih. Mzr 88). Akan tetapi rupa-rupanya nasib seperti itu tidak mengejutkan seorang israel, jika ia mempunyai anak-anak, karena hidupnya seolah-olah diteruskan di dalam keturunannya”.
[7] Joel S. Baden, The Nature of Barreness in the Hebrew Bible, 17.
[8] Henry Preserved Smith, Critical and Exegetical Comentary on The Book of Samuel, Edinburgh, Scotland,1977,05.
[9] “ (Pertama) skenario ini merupakan sebuah transaksi antara Elkana dan Hanna…. Hanna berinteraksi dengan Eli, imam di Shilo. Pembicaraan kedua tentang Hanna adalah perihal penilaian Eli yang salah terhadap Hanna(ayat 15-16). Bagian ketiga merupakan jawaban Eli, sebuah jaminan dan sebuah pengudusan(Ayat 17). (keempat) dalam sekenario ini Hanna kembali lagi bersama Elkana sebagaimana telah disebutkan dalam bagian pertama”. Kata first dan Fourth yang ada di dalam tanda kurung merupakan tambahan dari penulis. Lihat Walter Brueggemann, Interpretation First and Second Samuel, John Knox Press, United State of America, 1990,13-14.
[10] Walter Brueggemann, Interpretation First and Second Samuel, 13.
[11] Kata yang digunakan untuk menggambarkan doa Hanna adalah kata ‘Complaint Prayer’. Ini menunjukkan bahwa Hanna merasa tidak nyaman dengan situasi yang sedang ia rasakan. Bdk. Walter Brueggemann, Interpretation First and Second Samuel,13.
[12] H. Röthlisberger, Tafsir Alkitab 1 Samuel ,19.
[13] Joel S. Baden, The Nature of Barreness in the Hebrew Bible, dalam Disability Studies and Biblical Literature, Palgrave, Macmillan,2011,13-27.
[14] Lih. Joel S. Baden, The Nature of Barreness in the Hebrew Bible,13. “He makes three main points in this regard: first, that barreness is mentioned in close context with illness(Deut 7:14-15); second, that barreness is said to be “healed”(Gen 20:17); third, thar barreness appears to be “under control of a divine ‘sender/controller’”(followong the terminology of Hector Avalos).
[15] Penyebab terjadinya kemandulan ini disadur dari sebuah Power Point yang disusun oleh Yetti Wira Citerawati, yang bertemakan ‘Kemandulan’.
[16] Lihat dan Bandingkan, Indra Sanjaya, Nasib Perempuan-Perempuan Mandul dalam Alkitab, Wacana Biblika,vol.14 no.1, 2014,21. “ kemandulan dipandang sebagai pencobaan (Kej.16:2; 30:2; 1Sam.1:5) atau sebagai hukuman dari Allah (Kej. 20:18). Selain itu kemandulan juga dipandang sebagai sebuah cela yang memalikan. Kemandulan membuat orang tidak berharga dan menjadi bahan olok-olokan, seperti dialami oleh Hanna, istri Elkana, di hadapan Penina, madunya (1Sam. 1:6-8)”.
[17] Judette A. Gallares, Images of Faith: Spirituality of Women in the Old Testament, Orbis Books, New York,1992,173.
[18] Bdk. P. Kyle McCarter, 1 Samuel: A New Translation, Notes, & Comentary, Doubleday & Company,  New York, 1980,55. Secara lebih rinci diungkapkan demikian oleh P. Kyle, “the women went her way, and when she came to the(LXX her) chamber, she ate with her husband and drunk”.
[19] Bdk. Henry Preserved Smith, A Critical and Exegetical Comentary, T.&T. Clark, Edinburg,1977,12.
[20] Some commentators have though it imposible that the boy could be actually delivered to the priest at so early an age, and have tried to interpret the verb weaned in a figurative sense.” Henry Preserved Smith, A Critical and Exegetical Comentary, 12.
[21] Giuseppe Ricciotti, The History of Israel: Volume 1 From the Beginning to the exile,The Bruce Publishing Company, Milwaukee,1958,264.
[22] Yongki Karman, Nilai Anak Sulung dalam Tradisi Israel, dalam wacana Biblika, vol. 14, No. 1, 2014,13.
[23] Yongki Karman, Nilai Anak Sulung dalam Tradisi Israel,12.
[24] Yongki Karman, Nilai Anak Sulung dalam Tradisi Israel,14.
[25] Fred B. Craddock, Luke Interpretation: A Bible Commentary for teaching ang Preaching, John Knox Press, Louisville,1990,38.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keselamatan Bagi Israel dalam Perjanjian Lama

Kisah Derita Menuju Cinta