Cinta tak Sebatas Kata
Bernard
Häring
CINTA
TAK SEBATAS KATA
==================================================================
Pengantar
Refleksi tentang keutamaan menempatkan
kasih dalam posisi sentral di kehidupan manusia. Kasih mengambil tempat
istimewa sebagai ‘kaca mata’ Allah untuk mengangkat manusia sehingga selamat.
Sebenarnya tidak hanya sebatas kaca mata Allah; Allah sendiri adalah kasih itu (bdk.
1Yoh 4,8). Jadi, siapapun yang memiliki kasih berarti menjadi milik Allah dan
memiliki Allah dalam kehidupannya. Paulus menempatkan kasih sebagai keutamaan
yang kekal, karena tak lapuk oleh waktu dan tidak usang oleh karena dosa
manusia, “Demikianlah tinggal ketiga hal
ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya
ialah kasi” (1Kor 13,13). Seseorang tidak dapat bicara soal iman atau
harapan kalau ia tidak tahu tentang-Nya yang adalah kasih.
Kasih menjadi aktualisasi kehendak Allah
bagi manusia. Kehendak Allah hanya dapat ditemukan dalam dan melalui kasih,
karena di sanalah Ia berada. Ketika berbicara tentang kasih berarti juga harus
sadar akan kompleksitas dan kekayaan kata itu. Secara khusus karena kata ‘kasih’
mengambil posisi penting bagi sejarah (keselamatan) manusia.
Kasih itu Tampak dalam
Yesus
Seluruh sejarah kehidupan manusia
merupakan perwahyuan kasih yang berkelanjutan, dan Allah menciptakan manusia
untuk maksud yang besar, yaitu sebagai ‘pembagi kasih’. Pada hakekatnya manusia
itu secitra dengan Allah, oleh karenanya kalau Allah adalah kasih, maka manusia
juga memiliki kapasitas untuk mencintai atau membagikan kasih itu kepada liyan.
Dalam kitab suci, interpretasi yang penuh tentang kehadiran cinta ada pada
pribadi Yesus; manusia dan Allah. Di dalam Yesus Allah mewahyukan posibilitas
tertinggi dari kasih. Melalui Yesus kasih Allah Bapa menjadi kelihatan, karena
Yesus mencintai kita sama seperti Bapa mencintai-Nya (Yoh 15,9). Bagi Bernard Häring,
Yesus tidak hanya sabda yang berinkarnasi, tetapi kasih yang menjadi manusia. Oleh
karena itulah hanya melalui Yesus manusia bisa tahu apa arti kasih Allah yang
sesungguhnya.
Yesus menampakkan kasih Bapa bukan
dengan kata-kata abstrak, tetapi dalam seluruh hidup-Nya, dengan cara menjumpai
umat dalam keunikan mereka, menyingkap martabat manusia untuk menghidupi hidup
bersama-Nya, dan untuk menghormati Bapa. Yesus membawa semua pengalaman dan
kualitas manusiawi ke dalam visi agung Allah. Yesus adalah manifestasi
tertinggi dan solidaritas Bapa bersama manusia yang berdosa (2 Kor 5,21; bdk. Rm
8, 32; Ibr 2, 11-18).
Panggilan manusia adalah sebuah
kerasulan dan kemuridan yang mengimplikasikan persahabatan bersama Yesus, dan
pada waktu yang sama persahabatan diantara semua murid Kristus. Orang tidak
bisa menjadi sahabat Kristus tanpa menjadi sahabat bagi sesamanya. Yesus
memanggil para murid-Nya untuk bersatu bersama-Nya, supaya semua orang tahun
dan dapat datang kepada-Nya sebagai penyelamat dunia (Yoh 17,20-23).
Kasih bukan Sekedar Perintah
Allah mengawali seluruh karya-Nya bukan
dengan perintah untuk mengasihi, tetapi pertama-tama menjelma dan membagikan kasih-Nya
sendiri, dan dari sana Allah memimpin umat dengan perintah ke-Bapa-an. Kasih
ada dalam kesatuan Gereja sebagai sakramen kehadiran Allah yang nyata di dunia.
Persatuan dalam Gereja menjadi tanda efektif dari cinta Allah yang kelihatan. Tanda
yang kelihatan itu tergantung pada relasi kasih diantara para anggotanya,
evangelisasi, perayaan, dan institusinya[1].
Sakramen persatuan dan kasih itu terungkap secara padat dalam perayaan
ekaristi, sebagai sumber dan puncak kehidupan kristiani. Di dalam perayaan
ekaristi inilah terdapat seluruh misteri penyelamatan Allah.
Agustinus mengungkapkan bahwa kata
‘amin’ menjadi kesiapsediaan kita menjadi tubuh Kristus, dan berarti juga kita
menerima misteri kita. Di dalam ekaristi kita merayakan kasih persaudaraan yang
tidak hanya berhenti pada level institusional saja tetapi juga terealisasi
dalam kehidupan nyata setiap orang. Dengan demikian perintah cinta kasih mengajak
para murid dan sahabat Kristus untuk mengerti bahwa kasih adalah rahmat Allah
sekaligus tugas untuk direalisasikan dalam kehidupan nyata. Seluruh perintah
Allah mengalir dari perintah cinta kasih tersebut. Oleh karena itu urgensi yang
paling kentara untuk menyatakan dasar dari perintah Allah adalah mengalami
konversi dalam diri: berdoa kepada Allah, menyingkirkan penghalang, dan membuka
diri dengan rendah hati dan selebar mungkin kepada rahmat ilahi. Kasih dalam
hati akan mendorong orang untuk bertindak, dan tindakan kasih itu tergantung
pada disposisi kasih yang ada dalam diri.
Kasih Hadir Dalam dan Bagi Santo dan
Pendosa
Kasih adalah realitas konkret yang hadir
dalam sejarah manusia yang bermacam-macam. Sebagai sebuah realitas sejarah,
kasih bercorak universal sehingga memiliki banyak wajah. Dalam kristianitas,
salah satu panggilan untuk Yesus adalah Sahabat. Di sini kasih berwajah dalam
relasi persahabatan. Kata sahabat sangat kental dengan relasi kasih. Yesus
datang bersama manusia sebagai sahabat yang mengubah manusia sehingga berkenan
pada Allah. Persahabatan Yesus adalah tanda rahmat sekaligus rekonsiliasi
antara Allah dan manusia. Dengan demikian relasi persahabatannya tidak terbatas
pada orang-orang benar saja, tetapi para pendosa pun tak terkecualikan.
Sahabat adalah orang tersayang bagi
kita, di sana terdapat elemet penghargaan, evaluasi, dan penghormatan. Di
dalamnya selalu ada kasih kesalingan dalam memberi dan menerima. Tanpa
kemampuan itu, seorang tidak akan punya kasih universal, karena Kasih
persahabatan selalu membebaskan dan membawa pada cinta yang universal. Teilhard
de Chardin mengatakan bahwa kasih yang universal ini sebagai tanda spesial bagi
jaman kita saat ini. “Kita sering
berpikir bahwa kita mengalami kelelahan dalamberbagai bentuk kasih manusia
untuk istri, suami, anak, teman, dan untuk Negara. Itu semua karena bentuk
fundamental dari passion hilang dari daftar kita”, yaitu Yesus. Kasih universal
hanya berakar pada Allah, dan hal itu menjadi penuh arti ketika orang mampu
menjelmakannya dalam “solidaritas bersama dunia yang terhukum”. Jika kita
menghormati saudara-saudari kita sebagai sahabat dalam Kristus, maka kita bisa
bicara tentang kasih universal.
Ada tiga jenis cinta, yaitu eros, philia, dan agape. Ketiga jenis cinta itu terdapat gradasi motivasi yang
mempengaruhi seseorang untuk mencintai. Eros
adalah jenis cinta yang memiliki semangat paling awal dan ‘dangkal’ karena
hanya didasarkan pada impuls-impuls spontan. Impuls-impuls itu lebih condong
kearah pada emotional inclination,
misalnya dorongan-dorongan seksual. Motivasinya hanya level pemuasan diri,
tidak lebih. Philia adalah jenis
cinta yang terjadi diantara sahabat. Yesus datang ke dunia dengan membawa cinta
persahabatan ini, untuk menyelesaikan tugas dari Bapa-Nya yang adalah Agape. Philia yang dibawa Yesus menjadi penyelamat bagi eros dengan segera.
Ketika orang beriman menjawab cinta
Allah (agape), ia telah berkomitmen
dengan disposisi pokok, juga eros dan
philia secara bertahap diubah,
dimurnikan, dan diangkat pada level yang lebih tinggi. Hal ini tidak berarti
orang akan kehilangan karakternya, tetapi justru menemukan kepenuhan dan
autentisitasnya. Oleh karenanya, Agustinus memberikan tekanan akan perlunya
keberanian dan kecakapan untuk menemukan ekspresi dan tindakan kasih. Baginya,
“memiliki cinta yang sungguh dan melakukan apa yang diinginkan-Nya” adalah
ungkapan dan ekspresi cinta yang berani dengan membawa harapan bagi manusia. Di
dalam segala kekuatan cinta seperti ini manusia dapat diubah oleh cinta ilahi.
Bukti bahwa cinta tidak hanya sebatas
perintah dalam rumusan kata-kata adalah tindakan mencintai musuh-musuh. Yesus
mendobrak semua kenyamanan diri manusia yang egoistis. Mencintai musuh
merupakan tindakan cinta yang menyembuhkan dalam kekuatan agape, cinta demi kebaikan, sama yang kita alami dalam Kristus[2].
Oleh karena itulah perintah untuk mencintai musuh menjadi sentral dalam sejarah
keselamatan. Contoh konkret yang ada dalam kitab suci adalah Yusup yang telah
dibuang oleh para saudaranya, dan ia tetap mencintai saudara-saudaranya yang
berbuat demikian. Yesus pun menegaskan “Kasihilah
musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan
demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan
matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi
orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5,44-45).
Sikap cinta kepada musuh tidak lepas
dari tindakan ‘pengampunan’. Cinta semacam ini membawa ketenangan, karena
kejahatan hanya bisa dilumpuhkan dengan kebaikan (bdk. Rm 12, 20; Ams 25.21). Pengampunan
adalah bagian penting dalam kebahagiaan yang diwartakan orang-orang kristiani
sebagai pembawa damai (Mat 5,9). Sebuah ketulusan hati dan cinta yang efektif
terhadap musuh merupakan sesuatu yang sulit dicapai; namun, murid Kristus
menempatkan hal itu dalam hidup mereka.
Kasih sebagai Pelayan
Keselamatan
Kristus datang ke dunia untuk
menyingkapkan kasih Allah kepada kita, untuk membuat kita menjadi pembagi
kasih-Nya sendiri, dan oleh karenanya membawa pada keselamatan. Misi Kristus
adalah membuat semua orang ikut ambil bagian dalam kasih Allah yang
menyelamatkan. Dengan kata lain misi Kristus adalah memanifestasikan kasih
Allah yang menyelamatkan sebagai harta manusia sejak awal dalam dinamika
panggilan menuju kesucian[3].
Keselamatan itu merupakan realitas yang tidak dapat dibagi. Murid Kristus tidak
bisa menerima hidup dalam Kristus tanpa membagikan semangat Kristus demi
keselamatan semua. Terkait dengan hal ini ada tiga aspek yang saling terkait,
yaitu glorifikasi Allah, keselamatan universal, dan keselamatan individual[4].
Tiga aspek pokok tersebut didasari secara nyata oleh beberapa hal berikut:
Pertama,
doa yang merasul. Doa merupakan hal yang pokok dalam karya penyelamatan Yesus. Doa
ini memberi kekuatan dan arti pada semua yang dilakukan, katakan, dan dalam penderitaan
demi keselamatan semua. Jika doa kita adalah kerasulan, maka itu dipersembahkan
dengan kehendak yang besar untuk berkarya dan menderita demi keselamatan
kawanan kita. Dengan demikian kita yakin bahwa doa yang kita panjatkan adalah
doa penuh keyakinan akan buah.
Kedua,
teladan baik yang merasul. Doa dan penebusan diarahkan secara langsung pada
Allah. Teladan baik dan dorongan persaudaraan secara langsung diarahkan pada
sesama dalam pengalaman psikologis.
Ketiga,
dukungan persaudaraan dan evaluasi. Kristus datang bukan untuk membenarkan kita
atau memperpantas kita, tapi pertama-tama untuk mewartakan kabar gembira dengan
sabda-Nya, seluruh hidup dan kematian-Nya. Oleh karena inilah, cinta untuk
sesama tumbuh karena dorongan rahmat, lebih lagi bagi orang beriman ia akan
merasa wajib membantu liyan, sejauh ia bisa, dalam jalan keselamatan, dan jalan
ke kesucian.
Keempat,
menciptakan lingkungan yang baik. Tugas utama Gereja adalah mempersatukan umat
untuk membuat Injil menjadi hidup. Kristus hadir untuk membarui wajah dunia dan
Gereja, melalui orang-orang yang telah dipanggil untuk berbagi pekerjaan
kenabian-Nya. Oleh karena itu semua pemimpin Gereja diundang melakukan hal yang
sama dengan Kristus. Di sini perlu adanya kerjasama antara kaum awam dan
hirarki untuk memperhatikan lingkungan manusia. Hal ini selaras dengan gema
konsili vatikan II yang mempunyai misi, yaitu “garamilah dunia!” dengan membuat
karya penyelamatan Allah menjadi nyata dan operatif. Kasih yang menyelamatkan
itu mendorong solidaritas dalam praktik kerasulan. Setiap murid diharapkan
mampu menghidupi kharisma dan melakukan
hal-hal demikian dengan semangat solidaritas.
Kasih dan Keadilan
Kasih mengungkapkan dirinya lebih
spesifik dalam relasi saya, anda, dan kita di mana semua orang diterima,
diakui, dan dicintai sebagai pribadi yang unik dan di dalam sebuah relasi
langsung. Relasi meng-kita cocok dengan relasi persahabatan dan komunitas alami
seperti pernikahan dan keluarga serta lingkungan. Relasi-mereka didasarkan pada
pelayanan mutual pada fungsi dan jasa. Di sini kasih mengekspresikan dirinya
dalam kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu melalui kebersamaannya dengan
yang lain, melalui kewajiban, dan dialog persaudaraan, orang mengembangkan
rahmat dan memungkinkan untuk membangun tujuannya sendiri. Kasih menjadi sebuah
sejarah melalui inkarnasinya dalam budaya, tradisi, institusi, dan hukum yang
mengatur relasi dan menguatkan keadilan. Kasih Allah berbicara kepada kita
melalui Yesus Kristus dan dengan rahmat Roh Kudus-Nya menyentuh hati kita.
Allah menyingkapkan keadilan-Nya dalam
cara yang selalu sama, yaitu kasih-Nya. Tidak ada keadilan yang lain kecuali
penerimaan keadilan-Nya yang menyelamatkan, memuji belas kasih-Nya, dan
komitmen untuk selalu bertindak dengan adil dan belaskasih. Kasih dan keadilan
yang menyelamatkan sebenarnya serupa sejauh keduanya sejajar dengan tindakan
penyelamatan dan rahmat Allah, menghubungkan dan meminta tanggapan yang total
yang mempersatukan orang beriman bersama dengan kasih dan keadilan-Nya sendiri.
Oleh karena itulah, keadilan didasarkan pada kasih, kata St. Yustinus. Karena
keadilan didasarkan pada kasih, maka keadilan membawa manusia pada kebahagiaan
Sebaliknya, dosa berarti melawan
kasih. Keadaan dan kelemahan berlawanan dengan kasih Allah, hasrat kasih yang
sesungguhnya dan mencoba untuk mendintai dengan segenap hati kita. Sementara
itu, dosa menunjukkan ‘hanya’ kurangnya semangat kasih, dosa yang mematikan
merupakan kejatuhan atau rusaknya persahabatan manusia dengan Allah,
berbenturan dengan dasar panggilan kita.
Refleksi tentang Kasih
Kasih merupakan perintah utama dalam kehidupan
kristiani sepanjang sejarah. Kasih berada ditingkat yang lebih tinggi dalam
segala peraturan yang ada. Kasih menjadi dasar semua hukum Allah. Dalam pemikiran
tentang keutamaan, Kasih disebut sebagai ‘Ibu’ dari semua keutamaan oleh Thomas
Aquinas[5].
Ungkapan charity dalam bahasa inggris
sebenarnya di terjemahkan dengan kemurahan kati, oleh karenanya lebih mengarah
pada interioritas diri manusia dari pada eksterioritas dalam tindakan. Namun
demikian, dalam refleksti tentang keutamaan ungkapan Charity dilanjutkan dengan kasih, karena kata ini berasal dari
bahasa latin Caritas (agape) artinya kasih. Di dalam kasih
seperti ini segi interioritas dan eksterioras mendapat perhatian yang seimbang.
Kalau berbicara tentang kasih, tentu
tidak dapat luput dari kasih sebagai bentuk afeksi, perasaan tertarik pada
suatu objek, dan emosi paling fundamental manusia[6].
Pemikiran Bernard Härring membarui pemikiran teologi moral yang legalis menjadi
Kristosentris. Sejak awal Härring mengarahkan pemikirannya pada tindakan
konkret yang berlandaskan Kehendak Kristus sendiri dalam Kitab Suci. Ia
mengambil surat Paulus Kepada jemaat di Galatia “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum
Kristus” (Gal 6,2) untuk memulai pemikirannya tentang teologi moral. Oleh
karena itu, kasih menjadi elemen pokok bagi kehidupan manusia dengan dirinya
sendiri, manusia dan manusia, dan relasi manusia dengan Allah. Akhirnya, kasih
tidak hanya sebatas kata-kata indah pada tataran kognitif dan emosi saja,
tetapi terejawantah dalam kehidupan konkret.
[1] Bernard Härring, Free and Faithful in Christ, II, St.
Paul Publication, Middlegreen, 1979, 434.
[2] Bernard Härring, 444.
[3] Bernard Härring, 448.
[4] Bernard Härring, 448.
[5] James F. Keenan, Virtues for Ordinary Christianis, Sheed
& Ward, Wisconcin, 1999, 49.
[6] A. Sujoko, Identitas Yesus dan Misteri Manusia, Kanisius, Yogyakarta, 2009,
385.
Terbaiksss 👏👏👏
BalasHapus